|
||||
| Wawancara Le Monde dengan Ahmainejad |
|
Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Republik Islam Iran dalam wawancaranya dengan koran Le Monde, mengkritik sikap negara-negara Eropa yang tidak independen dan mengajak mereka kembali untuk merevisi politik luar negerinya. Kritik utama Ahmadinejad berpulang pada politik luar negeri Uni Eropa dan Amerika terkait kinerja negara-negara ini dalam menyikapi masalah Timur Tengah, Palestina dan juga soal program nuklir sipil Iran. Mayoritas wawancara yang dilakukan media-media Barat dan regional dengan pejabat-pejabat tinggi Republik Islam Iran, khususnya Ahmadinejad, terfokus pada tema nuklir Iran, tidak terkecuali harian Le monde. Koran Perancis ini berusaha mengetahui reaksi Presiden Republik Islam mengenai kemungkinan dikeluarkannya resolusi baru dari Dewan Keamanan PBB. Perlu diketahui bahwa kelompok negara-negara 5+1 yang terdiri dari 5 negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jermam sepakat soal draft resolusi baru yang menentang aktivitas nuklir Iran. Kemungkinan besar di minggu-minggu mendatang, DK PBB akan mengeluarkan resolusi baru terkait masalah ini. DK PBB sebelum ini telah mengeluarkan tiga resolusi terhadap Iran dengan nomor 1696, 1737 dan 1747. Republik Islam Iran menilai tiga buah resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB ilegal dan secara resmi menyatakan tidak akan menerimanya. Bila resolusi keempat diratifikasi, dengan melihat sikap Iran terhadap resolusi-resolusi sebelumnya, resolusi ini pun akan bernasib sama dengan yang sebelumnya. Presiden Republik Islam Iran dalam wawancaranya dengan Le Monde seraya menjelaskan sikap Iran mengatakan, Amerika dan sebagian negara-negara Eropa melakukan aksi campur tangan tugas-tugas lembaga-lembaga internasional seperti Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dampaknya, lembaga-lembaga ini kehilangan kredibilitasnya. Namun Ahmadinejad mengingatkan usaha mereka tidak akan berhasil. Karena Iran sebagai negara anggota Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) telah melakukan kerja samanya secara jujur dengan IAEA, namun sampai sekarang Iran belum mendapat hak-hak legalnya. Di sini, sebenarnya kesempatan bagi negara-negara Eropa untuk mengambil jarak dari Amerika baik dalam masalah nuklir Iran atau yang terkait dengan perubahan situasi Timur Tengah. Itu karena masyarakat internasional tidak lagi menerima segala bentuk politik luar negeri AS di Timur Tengah. Namun tampaknya gambaran Eropa indpenden tidak juga terbayangkan oleh para pemimpin negara-negara besar di benua ini. Negara-negara Eropa, khususnya Perancis, Inggris dan Jerman selama ini hanya mengekor politik unilaterisme Amerika di Timur Tengah. Mereka seakan-akan lupa independensi politik mereka sendiri. Padahal mereka tahu instabilitas yang terjadi di Timur Tengah akibat politik agresi Rezim Zionis Israel yang mendapat dukungan tanpa reserve AS dan Eropa. Sebagian negara-negara Eropa malah punya saham besar dalam blokade warga Palestina. Oleh karenanya, mereka juga ikut bertanggung jawab atas kejahatan Rezim Zionis di Palestina. Stabilitas Timur Tengah hanya dapat terwujudkan dengan adanya perdamaian yang kukuh di kawasan, khususnya Palestina. Namun perdamaian tidak dapat terwujudkan tanpa keadilan. |
| 最后更新 ( 2008-03-09 17:04 ) |










